Monday, November 12, 2012

Alter Ego

“Gue teman yang baik tapi organisator yang buruk ya?”
Pertanyaan itu gue lontarin pas gue lagi ngobrol selama 4 mata sama sahabat merangkap “atasan” gue di sebuah organisasi. Obrolan selama 20 menit tadi, yang sebagian besar berisi kekecewaan dan keluhan dia atas kinerja gue selama bekerja sama dengan dia membina sebuah departemen dalam sebuah organisasi independen. Sejujurnya, seluruh luapan kekecewaan dia tadi tidak mengejutkan gue. Gue menyadari semua yang dia katakan emang bener adanya, dan emang itulah yang gue lakuin selama ini, mengecewakan dia dalam peran gue sebagai organisator.

Semua kekecewaan, keluhan, amarah, kekesalan, gue terima dengan senyum dan pembenaran, berharap tidak membuatnya lebih kecewa oleh pembelaan-pembelaan gue. Karena mengecewakan dia adalah suatu hal yang sebetulnya sangat gue hindari dan menjadi hal terakhir di dunia ini yang ingin gue lakukan, sebuah hal yang sebetulnya gagal gue hindari. Miris. Gue pun  memang tidak berniat membela diri, karena semuanya benar dan momennya tidak mengijinkan. Lagipula, apa yang gue sebut membela diri dan dia sebut ngeles ini tidak akan ada gunanya, gue terlanjur terlalu dalam mengecewakan dia, dan gue pun lebih memilih atau mungkin dalam hal ini menginginkan dia menumpahkan semua kekecewaannya itu tanpa harus sibuk membantah pembelaan-pembelaan gue.

Seperti yang gue bilang tadi, gue tidak terkejut dengan semua kekecewaan dan keluhan dia, justru hal yang mengejutkan gue adalah saat dia berkata bahwa dia sampai ingin menangis karena kekecewaannya terhadap gue ini. Ucapan tersebut membuat gue terkejut dan memandang matanya dalam-dalam, dan gue tau dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Walaupun tidak ada tetes air mata di sana, tapi sorot mata dan nada bicaranya menyiratkan kesungguhan. Membuatnya kecewa pun sudah membuat gue malu dan kecewa terhadap diri gue sendiri, apalagi sampai membuatnya menangis, gue hancur. Yep, I do care of her. Bahkan mungkin jika bisa, gue akan memilih lebih baik gue yang “menderita” dibanding gue liat dia yang “menderita”. Gue emang salah, salah besar.

Friday, November 9, 2012

Andai Dia Tahu

Bilakah dia tahu..
Apa yang t’lah terjadi..
Semenjak hari itu..
Hati ini miliknya..

Mungkinkah dia jatuh hati..
Seperti apa yang ku rasa..
Mungkinkah dia jatuh cinta..
Seperti apa yang ku damba..

Tuhan yakinkan dia..
Tuk jatuh cinta..
Hanya untukku..

Andai dia tahu…

[Kahitna - Andai Dia Tahu]

Thursday, November 8, 2012

Fans

"Sekarang kamu tau kan rasanya ngefans segitunya sama artis?"

Gue cuma bisa senyum pas ditanya kaya gitu sama seorang temen gue, iya karena gue emang lagi dalam tahap ngefans yang lumayan akut. Pertanyaan itu dia lontarin karena dulu gue sering banget nyatain keheranan gue soal dia yang segitunya ngefans sama SuJu. 
"ih, segitu banget sih ngefans sama SuJu?"
Berkali-kali tuh gue nanya begituan sama dia. Wajar sih, abisnya temen gue itu tipe yang perhitungan banget, makan aja dia jatahin ga boleh lebih dari sekian belas ribu/hari, irit banget kan? Tapi begitu SuJu mau konser di Indonesia, dia ada di barisan paling depan buat antri beli tiketnya. Ga tanggung-tanggung, dia beli yang harganya 1,5 juta coy. Ajigile bener dah.

Sekarang bagian gue yang dia cecer balik, ya keadaan berubah sekarang, roda telah berputar. Hehehe. Dia ajuin pertanyaan itu ketika gue dengan bangganya mengumbar-umbar kesukaan gue sama Nabilah JKT48 kemarin malam ketika kami makan malam bersama kawan-kawan lain di KFC Margonda. Yap, gue ngefans sama anak SMP yang sering menari lincah dan menyanyi riang gembira itu. Eits, setidaknya gue masih mengontrol diri dalam ngefansnya, ga sampe ngeblank saat didadahin artis idola dan ngasih bunga keesokan paginya ke artis itu, believe me i know who does.:D

Sebenernya kalo ditanya kenapa gue ngefans sama Nabilah JKT48, jawabannya simpel aja, karena dia cute dan ngegemesin, as simple as it. Dulu juga gue segitunya sih pas ngefans sama Gita Gutawa, jawabannya hampir sama cuma ditambah warna vokalnya gue suka.

Yak, sesimpel itu seseorang bisa ngefans dan suka abis-abisan sama artis atau bahkan mungkin "seseorang". Bukan begitu wahai orang-orang yang mengagumi orang lain?:D

Dalam gelap, aku tak bisa melihat sebiru apa lagit itu.
Aku menyelipkan perasaanku di antara keseharianku. Aku memilih sendiri. Menyepi.
Dan aku mulai bosan dengan gelap. Jenuh dengan segala rahasia. Karenanya, hari ini, kuputuskan untuuk berterus terang padamu. Bertanya dengan segenap tetes keberanianku,
"Maukah bersamaku menikmati birunya langit hari ini?"
 -Karizza Rakmavika, Secret Admirer-

Wednesday, November 7, 2012

Jilbab Vs Kerudung

Beberapa waktu yang lalu gue ketemu sebuah pengalaman yang agak unik, dan seperti biasanya kadang pengalaman atau hal yang baru kita temui bisa menggelitik naluri atau fitrah kita sebagai mahluk berakal untuk sedikit berpikir. Dan itu pula yang gue lakukan setelah mengalami kejadian tersebut, menggunakan logika gue untuk sekadar menganalisis hal yang gue alami. Tapi ini murni buah pikiran gue doang sih, ga maksud buat nyudutin atau mendiskreditkan pihak-pihak tertentu, intinya mah no offense..hehe


Jadi, beberapa waktu yang lalu tuh gue lagi ngambil duit di ATM, pas udah selesai dan beranjak keluar gue liat orang-orang yang lagi antri. Semua yang antri waktu itu  berjenis kelamin perempuan (ga bisa gue pastikan banget sih, cuma liat doang ga diapa-apain.hehe), so far ga ada yang aneh kan? Nah, yang menggelitik pikiran gue itu yang antri beda tampilan semua, yang paling depan perempuan dengan style yang umum yaitu jeans+kaos, yang kedua itu perempuan berkerudung ala moderat yang pake kerudung+kaos+jeans, dan yang terakhir seorang akhwat, yang menurut gue berdasarkan pengetahuan gue sejauh ini, berhijab syar’i atau gue lebih suka menyebutnya berjilbab aja. Btw, kenapa gue membedakan penyebutan antara yang, menurut gue, berhijab syar’i (berjilbab) dan berkerudung? Nanti gue jelasin pelan-pelan ya. Pas ngeliat ketiga orang itu gue amaze aja, unik banget bisa ketemu 3 cara berpakaian berbeda di sebuah tempat yang sama, yang akhirnya bikin gue mikir gimana sih seorang perempuan (khususnya perempuan muslim) seharusnya berpenampilan?

Tuesday, November 6, 2012

Jodoh

Di usia 20 awal adalah masa-masa rawan untuk beberapa hal, seperti pekerjaan, realisasi cita-cita, kedewasaan diri, sampai jodoh. Ya, jodoh udah mulai menjadi salah satu hal yang masuk hitungan dalam obrolan, kicauan, pertanyaan, atau apapun bentuk interaksinya dalam lingkungan sekitar kita. Tapi apakah emang kita harus mulai seserius itu mikirin jodoh?

Pertanyaan itu bikin gue sedikit bermuhasabah, merenung sendirian buat tau jawabannya dari hati gue sendiri. Hasil pikiran itu udah tertuang dalam kultwit gue 139 hari yang lalu, udah cukup lama sih tapi berhubung gue punya blog baru, ga ada salahnya kan dishare sekali lagi disini?:)

well, ini rangkuman kultwit gue waktu itu. Oh iya, kultwitnya agak sedikit mellow ya dan berpuitis, maklum dibikin pas senja mulai menjingga di ufuk barat. Enjoy it folks.

1. Bila dirimu sedang menanti seseorang u/ menjalani kehidupan menuju ridho-Nya, bersabarlah dgn keindahan-Nya  

2. Sesungguhnya dia tidak datang karena kecantikannya, kekayaannya, atau keturunannya, tp Allah lah yg menggerakan..  

3. Jangan terlalu tergesa-gesa mengekspresikan cinta kepadanya, sebelum Allah mengizinkannya..  

4. Belum tentu yang kamu cintai adalah yang terbaik untukmu, sesungguhnya hanya Allah yang Maha Mengetahui..  

5. Simpanlah segala bentuk ungkapan cinta dan derap hati rapat2, Allah akan menjawabnya dengan lebih indah di saat yang tepat..:D  

6. Jodoh kita sudah tertulis di lauhul mahfuzh, mau diambil dr jalan halal/haram dapatnya yg itu juga, yg beda rasa berkahnya..:)

 7. Jodoh bukan tentang apa, berapa, atau siapa, tp bagaimana Allah memberikannya; diulurkan lembut & mesra, atau dilempar penuh murka  

8. Maka layakanlah diri di hadapanNya untuk dianugerahi jodoh dalam serah terima paling sakral, mesra, penuh cinta, berkah, & makna: Pernikahan..

 9. Jodoh di tangan Allah. Tapi jika tidak diambil-ambil ya di tangan Allah terus.. ikhtiar suci & doa akan mendekatkannya..

 10. Setiap org memiliki jodohnya, jika takdir dunia tak menyatukannya/malah melekatkan pada yg tak sejalan, surga kelak mempertemukan  

11. Jodoh nabi Luth dan Nuh bukan istri mereka, Maryam ibunda Isa pun kelak bertemu jodoh sejatinya, bersama mereka mengabdi padaNya  

12. Di Q.S. An Nuur:26, diri ialah cermin dr jodoh hati.. yang baik2 jadilah jodoh yg suci2, yang nista2 jumpalah yang keji2..

 13. Tentu ayat itu adalah peringatan dan kerangka ikhtiar.. cara menjemput jodoh terbaik adalah dengan membaikan diri setiap hari  

14. Yang menjemput pasangan dengan menggoda matanya, bersiaplah tak tahan atas jebak kejelitaan lain..

 15. Jodoh tetaplah misteri, syukuri ketidaktauan itu dgn merencanakan & mengupayakan yg terbaik menuju pernikahan suci di dunia fana

 16. Tugas besar kita adalah melestarikan perjodohan itu hingga ke surga, meniti rumah tangga, sabar & syukur dalam barakah & ridhoNya

 17. Semoga kelak kita dipersatukan dengan jodoh sejati kita di dunia dan di surgaNya yang kekal.. wallahu'alam bisshawab

Ya itu sih sekelumit isi otak gue soal jodoh, intinya sih siapin diri aja buat nyambut jodoh. Walaupun ga dikasih dalam waktu dekat tapi ga ada salahnya kan kita terus memperbaiki diri?:)

Siapa tau besok atau malah mungkin 1 jam lagi kita bakal ketemu jodoh, who knows?:D

Friday, November 2, 2012

Dirimu

Aku adalah berasal dari merahnya hijabmu..
Yang mewarnai setiap jejak langkahmu bagai bara api di tengah kegelapan malam..

Aku adalah berasal dari kokohnya kacamatamu..
Yang tegas membingkai dan melindungi keindahan di dalam bingkainya..

Aku adalah berasal dari indahnya matamu..
Yang tatapannya memberikan kesejukan dari kemisteriusan dirimu..

Aku adalah berasal dari mantapnya pijakanmu..
Yang selalu melukiskan keanggunan dalam setiap jejak langkah yang kau goreskan..

Aku adalah berasal dari cantiknya parasmu..
Yang memberikan oase di tengah kegersangan hati para penikmatnya..

Dan seperti itulah aku yang mengagumi dirimu..
Dirimu yang bersinar hari itu dan menyilaukanku, membuatku bahkan tak sanggup menyapamu..

Depok, 01/11/12-12:10..

Kami Ini Raja Jalanan



Kami ini raja jalanan..
Yang tak takut pada kematian..
Yang tak tunduk pada larangan..
Kami hanya takut pada kemacetan..

Arus berlawanan adalah jalan kami..
Pom bensin adalah tempat hembusan asap kami..
Polisi di jalan adalah lawan kami..

Kami ini raja jalanan..
Yang terus melaju di lajur kanan..
Yang tak pernah mengurangi kecepatan..
Hingga kami terkena hantaman..

Ongkos penumpang yang ada di pikiran kami..
kejar setoran menjadi tujuan kami..
Keselamatan bukanlah tanggung jawab kami..

Kami ini raja jalanan..
Kami tak terkalahkan..
Kami tak percaya takdir Tuhan..
Kami tak takut kain kafan..

Indramayu-26/10/12-00:56..
Terinspirasi dari kegilaan bis luragung jaya..